Akademisi : Jauhi Insektisida Kimiawi Sintetis, Gunakan Insektisida Botani Kendalikan Serangga Hama

Tanaman sawah.

PRASASTIJABAR.CO.ID-Usaha peningkatan produksi tanaman, selalu menghadapi kendala masalah gangguan oleh Organisme Pengganggu Tanaman yang disebut dengan OPT. OPT dapat berupa hama, penyakit dan gulma. Gangguan OPT dapat mengakibatkan turunnya kualitas dan kuantitas hasil produksi tanaman.

Strategi pengendalian OPT yang tepat dan juga bijaksana menjadi kunci keberhasilan perlindungan tanaman sehingga produk pertanian yang dihasilkan dapat bersaing tidak hanya di dalam negeri tetapi juga diluar negeri, apalagi sejak 5 tahun lalu (2015) kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah diberlakukan. Apabila hal ini dapat diantisipasi dengan baik maka produk pertanian Indonesia akan mampu bersaing dengan produk Negara Negara lain.

Menghadapi kendala serangan OPT khususnya Serangga Hama ,umumnya petani menanganinya dengan menggunakan pestisida/ insektisida kimia sintetis, karena dapat menekan populasi hama dalam waktu singkat serta mudah pula dalam pengaplikasiannya.

Penggunaan insektisida kimia sintetis yang kurang bijaksana akan menimbulkan dampak negatif yaitu terjadinya resistensi dan resurgensi hama, terbunuhnya musuh alami hama (predator dan parasitoid), meninggalkan residu pada tanaman dan lingkungan maupun pada manusia.

Mengingat dampaknya perlu dicari metode lain unuk mengatasi serangan hama dengan mengembangkan suatu usaha mendapatkan insektisida baru selain penggunaan insektisida kimia sintetis. Salah satu yang dapat diterapkan dan menjadi alternatif pengendalian hama yaitu dengan menggunakan insektisida botani yang berasal dari tumbuhan, yang efektif dan efisien serta mampu meminimalisir pencemaran lingkungan serta bahayanya bagi manusia maupun hewan.

Insektisida botani adalah senyawa kimia yang berasal dari tumbuhan. Tumbuhan dapat melakukan proses metabolisme dengan menggunakan senyawa primer (primary metabolite) yang kemudian menghasilkan senyawa lain yaitu senyawa sekunder (secondary metabolite) dan juga merupakan salah satu pertahanan tumbuhan terhadap serangga hama maupun penyakit.

Insektisida botani telah membuktikan kelebihannya, hal ini diduga karena senyawa bioaktif tumbuhan memiliki struktur kimia yang mudah mengalami biodegradasi dialam sehingga diperkirakan tidak akan mengganggu lingkungan karena sifat kimianya mudah terurai.

Sifat kimia ini adalah faktor dominan yang memengaruhi serangga hama dalam memilih pakan, memakan, memilih habitat bagi keturunannya dan lain lain. Hal ini membuka peluang bagi pemanfaatan bahan alami botani yang dihasilkan tumbuhan untuk pengendalian serangga hama. Bahan alami botani tesebut mampu mengganggu proses proses biokimia sel serangga dan tidak persisten.

Insektisida Botani bersifat “ Pukul dan Lari” (Hit and Run) saat diaplikasikan, akan membunuh hama saat itu juga dan setelah hamanya mati residunya akan hilang saat itu juga.Dengan demikian produk akan terbebas dari residu pestisida sehingga aman dikomsumsi manusia.

Jadi Manfaat pestisida nabati anatara lain dapat membuuh OPT, dapat sebagai perangkap hama, mudah terurai di alam, berbiaya murah dan gampang didapat, residunya mudah terurai di alam dan ramah lingkungan.

Di indonesia hingga 1993 terdapat lebih dari 54 spesies tumbuhan yang mengandung bahan insektisida yang telah diketahui keefektifannya pada beberapa serangga hama. Tumbuhan yang diketahui bermanfaat mengendalikan populasi hama khususnya serangga hama sehingga kehadiran serangga hama berada dibawah ambang Ekonomi.

Kemampuan insektisida botani baik yang bersifat atraktan (zat penarik serangga), repellent (zat penolak serangga) maupun antifeedant (anti makan serangga) disebabkan memiliki beberapa kandungan senyawa bioaktif, di antaranya saponin, tannin, alkaloid, alkenyl fenol, dan terpenoid.

Beberapa tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai insektisida botani untuk mengendalikan populasi serangga hama seperti :

1. Wedusan, Babadotan (Ageratum conyzoides) cara kerja sebagai racun kontak dan racun perut, metamorphosis dini, dewasa/imago steril.  Sasaran OPT hama Aphis craccivora, Bombyx mori, Epilacna varivestis, Heliothis armigera dan Hyposidra talaca;

2. Jambu monyet, jambu mete,jambu jipang (Anacardium occidentale) cara kerja menurunkan potensi produksi telur, menghambat penetasan telur. Sasaran OPT hama Cricula trifenestrata.

3. Serai wangi, Sereh wangi (Andropogon nardus) kegunaan sebagai insektisida, nematisida, bakterisida,obat tradisional dan kosmetika, menghambat peletakan telur, menghambat perkembangan bakteri. Sasaran OPT hama Tribolium sp, Sitophilus sp dan Callosobruchus sp dan Meloidogyne sp serta Pseudomonas sp.

4.Sirsak (Annona muricata). Kegunaan sebagai insektisida , antitumor, anti malaria. Cara kerja sebaga raun kontak, racun perut. Bersifat antifeedant bagi serangga. Sasaran OPT hama Aphis gosypii, Epilacna varivestis, Helopeltis sp, Aedes aegypti, Drosophila melanogaster.

5. Nimba,Mimba, Membha (Azadirachta indica) cara kerja sebagai racun kontak dan racun perut, bersifat repellent dan atractant. Mempengaruhi reproduksi telur serangga. Sasaran OPT hama Aphis gossypii, Epilacna varivestis, Nilaparvata lugens, Heliothis armigera, Rhizoctonia solani, Musca domestica,Agrotis ipsilon.

6. Tuba, Mombul (Derris eliptica), Kegunaan sebagai insektisida, fungisida, acarisida, nematisida dan racun ikan. Cara kerja sebagai racun kontak dan racun perut. Sasaran OPT hama Aphis spp, Coccus viridis, Bombyx mori, Meloidogyne incognita,Plutella xylostella. Crocidolomia binotalis.

Kemudian jenis tumbuhan lain yang juga berguna sebagai pestisida/ insektisida : Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) mengendalikan Cendawan Terbawa benih; Gadung (Dioscorea hispida) mengendalikan hama Crocidolomia binotalis. Kirinyuh (Eupatorium odoretum) dan Kenikir (Tagetes erecta) mengendalikan hama N.Lugens. Kipait (Tithonia sp) mengendalikan Helopeltis sp dan Empoasca sp; Bintaro (Cerbera odollam) mengendalikan Wereng Batang Coklat/ WBC (N. lugens), serangga rayap (Captotermes sp), kutu beras Sitophilus oryzae. Sedah, Sere, Tanub, Dembau, Sirieh, Ganjung (Piper betle) mengendalikan Fusarium oxysporum, Septococcus viridians dan Phytophthora sp; Bratawali, Brotowali (Tinospora rumpii) mengendalikan Tribolium castaneum, Dasynus piperis dan Lophobaris piperis. Bengkowang, Bengkuang, Singkuang (Pachyrrhyzus erosus) mengendalikan hama Aphis fabae, Nezara viridula dan Spodoptera litura.

Dalam pengendalian OPT penggunaan Pestisida kimia sintetis tidak jadi masalah selama digunakan sesuai dengan ketentuan seperti Tepat jenis pestisida, tepat sasaran,tepat konsentrasi, tepat cara aplikasi dan tepat waktu aplikasinya. (red).

Penulis : Dr. Martua Suhunan Sianipar, MS (Dosen Teknik Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran).

Baca juga

Leave a Comment