Pro Kontra Penutupan Sebidang Liar KA di Warung Bambu

KARAWANG – Sejumlah warganet menanggapi rencana penutupan permanen sebidang liar di Warung Bambu. Sebidang liar tersebut merupakan akses utama warga. Tak hanya itu, akses Warung Bambu-Gorowong merupakan akses yang sangat ramai kendaraan.

Namun, insiden kecelakaan antara bus Agra Mas dan KA Argo Parahyangan menimbulkan polemik. Jalur tersebut tak berpalang pintu otomatis. Mengandalkan sukarelawan warga yang berinisiatif mengatur arus lalu lintas ketika kereta api melintas.

Salah satu akun Rifda Desi Prahesti dalam forum Karawang Info mengatakan jika jalur tersebut merupakan jalur favorit. Ia tak bisa membayangkan jika jalur tersebut ditutup permanen dan harus melintasi jalan Johar-Teluk Jambe yang setiap harinya macet. Akun lain, Fatum Sasato Sbf bahkan mengajak masyarakat menulis petisi penolakan penutupan jalan tersebut.

Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Eva Chairunnisa mengatakan meskipun keberadaan pelintasan sebidang liar bukan menjadi tanggung jawab PT KAI (Persero) namun untuk keselamatan dan keamanan, PT KAI Daop 1 Jakarta dengan segera melakukan penutupan pelintasan tersebut secara permanen.

Tindakan penutupan tersebut dilakukan PT. KAI sesuai amanah UU No.23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian, pasal 94 yang menyebutkan:

  1. Untuk keselamatan perjalananan kereta api dan pemakai jalan, pelintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup.
  2. Penutupan pelintasan sebidang sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) dilakukan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah.

Selain itu, kewajiban pengguna jalan juga termuat dalam UU No.22 Tahun 2009, Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pada pasal 114 yang menyebutkan bahwa pada pelintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib mendahulukan kereta api dan memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dulu melintas rel karena pada dasarnya, pintu pelintasan itu bukanlah rambu lalu lintas melainkan alat bantu untuk mengamankan perjalanan KA sehingga sudah seharusnya para pengguna jalan raya menyadari akan hal tersebut untuk keselamatan.

“Sebagai informasi, total pelintasan yang ada di wilayah Daop 1 Jakarta adalah sebanyak 463 pelintasan, yang terdiri dari 162 pelintasan sebidang yang dijaga dan 301 pelintasan sebidang liar. 59 pelintasan sudah dibuat tidak sebidang melalui fasilitas fly over dan underpass,” kata Eva.

Sejauh ini PT KAI juga telah berupaya dengan kerja keras melakukan penutupan sejumlah pelintasan sebidang untuk keselematan bersama, namun kerapkali proses tersebut mendapatkan perlawanan dari masyarakat sekitar. (red)

Baca juga

Leave a Comment