
Tumpukan stok pupuk yamg ada di salah satu gudang di Cianjur, namun alokasi pupuk subsidi dari pemerintah untuk Petani Cianjur disebutkan sudah habis
CIANJUR-Petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi untuk tanaman padi sejak satu bulan terakhir. Hal tersebut disebabkan lantaran alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah untuk tahun 2020 sudah habis.
Bahkan untuk mendapatkan pupuk, mereka terpaksa membeli dari sejumlah kelompok tani yang masih memiliki stok.
Hasmi, salah seorang petani di Kecamatan Karangtengah, Cianjur, mengungkapkan, ia baru tahun ini mengalami kesulitan pasokan pupuk.
Ia mengungkapkan, saat menanyakan kepada distributor atau agen pupuk, mereka beralasan kuota untuk penyaluran pupuk bersubsidi untuk tahun sekarang sudah habis.
“Katanya kosong tapi kami lihat di gudang pupuk, stoknya masih banyak. Alasan dari distributor atau agen yang kami temui, kuota untuk penyaluran tahun ini dari pemerintah sudah habis,” ungkap Hasmi, Selasa (22/9/2020).
Ia berharap kuota pupuk bersubsidi untuk petani kembali ditambah, karena saat musim tanam ketiga, padi yang baru tumbuh sangat membutuhkan pupuk.
“Jangan sampai hasil panen kami gagal karena kekurangan pupuk. Harapan kami pemerintah mengembalikan kuota ke asal agar petani tidak kesulitan mendapatkan pupuk,” katanya.
Sementara, Kepala Seksi Penyuluhan Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Holtikultura Kabupaten Cianjur, Deni Dadan, mengakui bahwa alokasi pupuk bersubsidi untuk tahun sekarang ada pengurangan dibanding tahun lalu.
“Tahun sebelumnya kita dapat alokasi pupuk bersubsidi dari Provinsi sebanyak 35.000 ton. Tapi untuk tahun sekarang Cianjur hanya mendapatkan 25.703 ton,” katanya.
Ia beralasan pengurangan alokasi pupuk tersebut dilakukan oleh Pemerintah Pusat. “Cianjur hanyabmempunyai stock pupuk bersubsidi sebanyak 25.703 ton, sehingga tidak mencukupi kebutuhan pupuk untuk kelompok tani di Kabupaten Cianjur yang membutuhkan 35.000 ton pupuk,” ucap Deni.
Diungkapkan Deni, sebelumnya Pemkab Cianjur sudah mengajukan penambahan alokasi pupuk bersubsidi kepada Provinsi, namun hingga saat ini belum juga ada jawaban.
“Dari bulan Januari kemarin kita sudah mengajukan penambahan alokasi pupuk subsidi ke Provinsi. Bahkan sudah beberapa kali, tapi belum juga tiba. Mungkin pihak provinsi menunggu jawaban dari pusat,” bebernya.
“Apabila Poktan kehabisan pupuk, petani dapat menggunakan pupuk organik yang di buat sendiri atau menggunakan pupuk non subsidi yang terdapat di pasar,” pungkasnya.
Namun pernyataan tersebut berbeda dengan Account Executive Pupuk Kujang Wilayah Cianjur Geugeu Sudewi saat dihubungi mengatakan, stok pupuk jenis urea, ponska, dan organik yang tersedia saat ini di gudang lini 3 sangat mencukupi untuk kebutuhan petani di wilayah Cianjur.
Namun, lanjutnya, sistem kuota yang dilakukan pemerintah membuat pihaknya belum bisa menyalurkan pupuk tersebut.
“Kuota yang disediakan pemerintah untuk penyaluran per satu tahun sudah habis di bulan Juli, yakni 25 ribu ton untuk urea dan 22 ribu untuk ponska, sehingga penyaluran tidak dapat lagi dilakukan sambil menunggu kebijakan dari pemerintah. Kalau kami salurkan tidak ada yang membayar,” katanya.
Ia menjelaskan saat ini, stok yang tersedia di tiga gudang milik Pupuk Kujang di Cianjur, untuk pupuk jenis urea sebanyak 2.653 ton, ponska 1.771 ton, dan organik sebanyak 372 ton.
Pada 2020, ungkap dia, alokasi pupuk bersubsidi termasuk di Cianjur dikurangi pemerintah, sehingga berdampak terhadap kebutuhan petani yang tidak seimbang dan terjadi kelangkaan, meski pihaknya sudah menyiapkan stok yang cukup.
“Tahun lalu, alokasi Cianjur untuk urea sebanyak 35 ribu ton, ponska 25 ribu ton, dan organik 20 ribu ton. Tahun ini dikurangi hingga puluhan ribu ton, sehingga terjadi kelangkaan di tingkat petani yang setiap tahun alokasi Cianjur aman di angka 35 ribu ton urea,” ucap dia.
Ia menuturkan, Pupuk Kujang siap menyalurkan kembali pupuk bersubsidi setelah mendapat petunjuk dari pemerintah pusat dan daerah. Kebutuhan petani biasanya untuk sekali musim tanam menggunakan urea sebanyak 8.000 ton.
“Untuk alokasi aman per satu tahun, Cianjur membutuhkan 35 ribu ton pupuk urea dan 25 ribu ton jenis ponska. Tercatat alokasi urea tahun ini sudah habis di bulan Juli sebanyak 24.207 ton,” imbuhnya.(wan/zak)
