Dua Pria dalam Foto Bugil di Gunung Gede Pangrango Minta Maaf Lewat Vidio

CIANJUR-Kedua pria yang viral di media sosial lantaran berpose foto bugil di Alun-alun Suryakancana Gunung Gede Pangrango akhirnya meminta maaf kepada semua masyarakat atas keresahan postingannya tersebut melalui video.

Kedua pria tersebut bernama Eying dan Bondan Ramadhani asal DKI Jakarta.

Dalam video tersebut mereka mengakui kesalahannya atas postingan foto bugil uang dibuat tersebut.



“Kami mengakui kesalahan penempatan dokument riset di dalam sosial media khususnya Instagram. Oleh karena itu kami berdua berminta maaf kepada seluruh masyarakat khususnya Jawa Barat dan teman-teman pendaki atas keresahan postingan kami,” ujar Eyi dan Bondan dalam video klarifikasinya.

Dalam video nya mereka juga menjelaskan alasan mengapa foto telanjang tersebut dibuat. Menurutnya maksud foto tersebut dibuat hanya untuk bahan riset artistik mereka bertema yang menuju kepada Nudism.

“Nudism tersebut merupakan sebuah simbol bentuk protes bentuk telanjang untuk menyuarakan hak individu dan perjuangan gender untuk mengubah sudut pandak masyarakat,” jelasnya.

“Disini kami belajar suapaya kedepannya bisa lebih memilah dalam mengambil foto,” sambungnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Cianjur, Yudi Ferdiana mengtakan, dirinya meminta wisatawan tetap menghargai kearifan dan budaya lokal saat berkunjung. Perilaku yang dapat merusak nilai budaya diharapkan tidak dilakukan.

“Dari mana pun, ketika kita wisata ke suatu daerah, kebudayaan lokal tetap harus diikuti dan dihargai. Karena nilai itu yang dijunjung oleh warga lokal, sebagai kekayaan budayanya,” ujarnya, Jumat 23 Oktober 2020.

Menurutnya, alasan jika foto itu diambil sebagai bagian riset artistik berteman fast fashion yang menuju keadaan nudism, tidak dibenarkan.

“Kalau mau riset atau mengkampanyekan sesuatu harus dilihat juga dimana mereka melakukan dan apakah sesuai dengan budaya lokal? Jika tidak, ya jangan dilakukan. Silakan riset di tempat lain yang memang bisa mengaplikasikan budaya tersebut. Atau bisa buat tempat sendiri, tidak di wisata yang bersifat umum,” tegasnya.

Meski sudah meminta maaf, ia berharap agar keduanya di proses hukum sebagai efek jera agar tidak mengulangi dan tidak mengabaikan ataupun merendahkan budaya lokal.

Yudi menegaskan agar wisatawan yang berkunjung ke Cianjur menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran untuk tetap menghargai budaya di Tatar Santri.

“Cianjur ini penuh dengan destinasi wisata alam. Silakan berwisata tapi tetap hargai budaya dan kearifan lokal,” katanya.(stn/zak)

Baca juga

Leave a Comment