
Saepudin cuman bisa pasrah duduk di atas rodanya.
CIANJUR-Saepudin (40), seorang guru honorer yang telah mengabdi selama 25 tahun di SDN Mekarjaya, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, terpaksa harus berjualan balon untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Namun kini Saepudin hanya bisa diam di rumahnya karena terserang stroke.
Warga Kampung Pasir Batu, Desa Jati Kecamatan Bojongpicung tersebut, telah mengabdikan dirinya sebagai guru honorer sejak tahun 1994. Ia dipercaya untuk mengajar kelas IV.
Menurutnya, selama mengabdi menjadi tenaga honorer, per bulannya ia hanya mendapatkan honor sebesar Rp100 ribu atau hanya dibayar Rp3 ribu per harinya.
“Dulu ketika masih berumah tangga, sang istri pernah meminta untuk beralih profesi menjadi buruh bangunan, lantaran pendapatan guru honorer lebih kecil dari buruh serabutan sekalipun,” katanya, Sabtu, (30/11/2019).
Baca juga : Monumen Tirto Diharapkan Jadi Semangat Jurnalis Cianjur
Karena tidak ingin meninggalkan profesinya, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Saepudin memilih berjualan balon. Hal itu ia lakoni sejak memiliki anak, yakni pada 1997. Mulai dari pasar, hingga pusat kemaramaian dan acara nikahan didatangi, berharap balon dagangannya laku terjual.
“Saya berjualan balon seteleh mengajar di sekolah lalu mengganti pakaian dengan baju sehari-hari. Saya tidak merasa malu, namun lebih malu kalau anak merengek minta uang jajan dan saya tidak punya uang,” ucapnya.
Ia mengatakan, dari berjualan balon tersebut dirinya bisa mendapatkan penghasilan lebih, yakni sampai sekitar Rp50 hingga Rp75 ribu per hari.
“Kalau dapatnya tidak tentu, tergantung banyaknya balon yang terjual. Paling besar Rp50 ribu. Alhamdulillah bisa menambah pendapatan untuk sehari-hari, karena pada saat itu saya tidak mau merengek ke pemerintah,” katanya.
Namun, sejak tujuh tahun yang lalu kondisi kesehatannya mulai menurun, dimulai terjadinya gangguan pada penglihatan, hingga menunjukan gejala stroke. Pada akhirnya sekitar 2017 lalu, Saepudin terserang stroke hingga melumpuhkan anggota tubuhnya.
Baca juga : Jelang Akhir Tahun, Dishub Bakal Periksa Kelayakan Angkutan Umum
“Kaki sebelah kiri sudah tidak bisa digerakan, kalau yang kanan masih bisa bergerak tapi tidak kuat kalau berdiri. Kalau tangan, masih bisa terasa lemas,” lirihnya.
Kondisi tersebut, terpaksa membuat dirinya setiap hari berdiam diri di atas kursi roda. Ia pun terpaksa harus berhenti mengajar, juga berjualan balon karena kondisi yang tidak memungkinkan. (zie/tif).
