G30S PKI merupakan salah satu peristiwa kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Terlepas dari kontroversi kisah yang ada, yang pasti bahwa dalam peristiwa tersebut ada beberapa anak bangsa yang harus menjadi korban.
Berikut dibawah ini beberapa Profil singkat 7 Pahlawan Revolusi yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Jenderal TNI Ahmad Yani
Lahir pada 19 Juni 1922, di Purworejo, Jawa Tengah. Pada tahun 1943, Ahmad Yani bergabung dengan tentara yang disponsori Jepang PETA (Pembela Tanah Air), dan menjalani pelatihan lebih lanjut di Magelang.
Ahmad Yani bergabung dengan tentara republik setelah kemerdekaan Indonesia, dan turut berjuang melawan Belanda untuk mempertahankan Magelang.
Karir lain yang menonjol dari Ahmad Yani adalah serangkaian serangan gerilya yang diluncurkan pada awal 1949 untuk mengalihkan perhatian Belanda.
Pada dini hari 1 Oktober 1965, Ahmad Yani harus meregang nyawa di rumahnya saat Gerakan 30 September tersebut berlangsung.
2. Letnan Jenderal M.T. Haryono
Jenderal yang miliki nama lengkap Mas Tirtodarmo Haryono ini lahir pada 20 Januari 1924 di Surabaya, Jawa Timur. Ia dilahirkan sebagai putera seorang B.B (Pamong Praja). Kalangan B.B pada waktu itu mempunyai kedudukan yang istimewa diantara pegawai-pegawai Belanda yang lainnya.
Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia turut berjuang bersama para pemuda lainnnya untuk mempertahankan kemerdekaan, dan sekaligus bergabung bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dengan awal pangkat yang diperolehnya adalah Mayor.
Selama peperangan mempertahankan kemerdekaan yakin antara tahun 1945 sampai 1950, ia sering dipindahtugaskan. Mulai menjadi Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda, hingga menjadi Sekretaris Delegasi Militer Indonesia saat diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB)
3. Pierre Andries Tendean
Pria kelahiran 1 Oktober 1965 ini lahir di Batavia, Hindia Belanda. Ia adalah seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban dalam peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965.
Ia mengawali karirnya di dunia militer sebagai intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution menggantikan Kapten Kav Adolf Gustaf Manullang.
Setelah kematiannya, ia dipromosikan menjadi Kapten Anumerta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata bersama enam perwira yang sama-sama menjadi korban G30S PKI.
Hingga pada tanggal 5 Oktober 1965, ia ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Revolusi.
4. Letnan Jenderal S Parman
Siswondo Parman lebih dikenal dengan sebutan S. Parman. Lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. Pada tahun 1940 ia lulus dari sekolah tinggi di kota Yogyakarta dan memutuskan untuk masuk sekolah kedokteran, tapi harus meninggalkan sekolah kedokterannya karena penyerangan yang dilakukan Jepang.
Pada awalnya, ia bekerja untuk polisi militer Kempeitai Jepang. Walupun sempat ditangkap Jepang karena keraguan atas kesetiaannya, S. Parman akhirnya dikirim ke Jepan untuk mengikuti pelatihan intelijen dan bekerja kembali untuk Kempeitai Jepang.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Parman bergabung bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dan diangkat menjai kepala staf dari Polisi Militer di Yogyakarta pada akhir Desember 1945.
Pada malam peristiwa G30S PKI, Siswondo Parman menjadi salah satu dari enam jenderal yang menjadi korban pada peristiwa tersebut. Akibat peristiwa tersebut, melalui Keputusan Presiden Nomor 111 / KOTI / 1965, Presiden Soekarno secara resmi menjadi Letnan Jenderal S Parman sebagai Pahlawan Revolusi.
5. Mayor Jenderal D.I. Panjaitan
Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925. Pada saat tamat Sekolah Menengah Atas, saat itu Indonesia masih dalam masa kependudukan jepang.
Karena saat itu Indonesia masih dalam pendudukan Jepang, Panjaitan mengawali karir militernya dengan bergabung mengikuti pelatihan Gyugun. Dan ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Setelah Indonesia sudah meraih kemerdekaan, ia bersama para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kemudian menjadi TNI. Di TKR, ia pertama kali ditugaskan menjadi komandan batalyon, yang kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Buktitinggi pada tahun 1948.
Kemudian ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militer ke II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Hingga pada peristiwa gerakan G30S PKI, tepatnya pada tengah malam tanggal 1 Oktober 1965, ia harus menjadi salah satu korban pada peristiwa tersebut. Panjaitan ditembak di kepala saat ia sedang berdoa. Mayor Jenderal D.I Panjaitan termasuk menjadi salah satu Pahlawan Revolusi yang ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia saat itu.
6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
Sutoyo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 28 Agustus 1922. Sebelum masa invasi Jepang pada tahun 1942, ia sudah menyelesaikan sekolahnya.
Selama masa pendudukan Jepang, di Jakarta ia belajar tentang penyelenggaraan pemerintahan, yang kemudian ia bekerja sebagai pegawai pemerintah di Purworejo, namun mengundurkan diri pada tahun 1944.
Pada tahun 1945, tepatnya setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sutoyo kemudian bergabung ke dalam bagian Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian pada Juni 1946, ia diangkat menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto, komandan Polisi Militer.
Karirnya dalam dunia militer, Sutoyo terus mengalami kenaikan pangkat. Mulai pada tahun 1954 ia menjabat sebagai kepala staf di Markas Besar Polisi Militer, hingga pada tahun 1961 ia sampai menjadi inspektur kehakiman/jaksa militer utama.
Pada peristiwa G30S PKI, Sutoyo akhirnya turut menjadi korban, yang menjadikannya sebagai salah satu Pahlawan Revolusi.
7. Letnan Jenderal Anumerta R. Suprapto
Lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920. Suprapto menyelesaikan sekolahnya di AMS (setingkat SMU) bagian B di Yogyakarta pada tahun 1941.
Pada masa pemerintahan Belanda, ia memasuki pendidikan militer di Koninklijke Militaire Akademie di Bandung. Namun pendidikan tersebut tidak dapat diselesaikan karena pasukan Jepang berhasil mendarat di Indonesia.
Pada saat awal-awal kemerdekaan, ia merupakan salah satu pejuang yang berhasil merebut senjata pasukan Jepang di cilacap. Hingga akhirnya Suprapto masuk menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto.
Suprapto mencatatkan sejarah dengan ikut menjadi salah satu yang turut dalam pertempuran di Ambarawa melawan tentara Inggris. Saat itu, pasukannya dipimpin langsung oleh Panglima Besar Sudirman. Bahkan ia juga sempat menjadi salah satu ajudan Panglima Besar tersebut.
Namun sangat disayangkan, ia harus menjadi salah satu korban dalam peristiwa G30S PKI. Dan menjadikannya salah satu dari enam Pahlawan Revolusi lainnya.
