Balita di Plered Terindikasi Penyakit Difteri

Ilustrasi.

PURWAKARTA-Diduga kuat terindikasi penyakit difteri, seorang balita berusia lima bulan asal Kecamatan Plered harus mendapatkan perawatan intensif di RSUD Bayu Asih Purwakarta

Meski begitu, belum ada alat bukti pasien terkena difteri dan statusnya masih suspect dan penanganan medis telah dilakukan baik oleh Dinas Kesehatan maupun RSUD Bayu Asih Purwakarta tempat pasien dirawat.

Petugas surveilans Puskesmas Plered, Aan Suandana mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil dari laboratorium dari Bandung. Jika hasil itu sudah keluar maka dapat disimpulkan jika pasien negatif atau positif difteri.

“Kita masih menunggu hasil kulturnya, saat ini belum bisa ditentukan,” ungkap Aan, Kamis (26/9/2019).

Baca juga : Warga Keluhkan Dump Truk Operasi Di Jam Sibuk, Ini Kata Bupati Anne

Namun, dia menyebut jika tanda-tanda yang dialami pasien menunjukan bahwa itu difteri, bahkan sistem penanganannya juga tak jauh berbeda terhadap pasien difteri. Meski begitu, Aan menegaskan tidak akan berasumsi jika hasil kultur belum keluar.

“Penanganannya sama seperti pasien difteri, tapi sekali lagi saya tidak mau menyimpulkannya begitu saja sebelum hasilnya keluar, kita tunggu saja,” ujarnya.

Selain itu, Aan juga tengah menelusuri dari mana penyakit itu berasal mengingat penyakit mematikan itu merupakan penyakit menular.

Namun, lanjut dia berdasarkan keterangan pihak keluarga pasien belum pernah dibawa ke luar kota, kemungkinan ada seseorang di lingkungan pasien pernah ada susfek difteri.

“Itu yang sedang kami telusuri, beberapa kemungkinan bisa menjadi pemicu, tapi jika melihat data di Kecamatan Plered tidak ada kantong difteri karena 90 persen masyarakat di kita pernah diimunisasi,” bebernya.

Meski begitu, sebagai antisipasi pihak Puskesmas Plered akan melakukan penyuluhan ke masyarakat, kemudian memutus mata rantai dengan cara memberikan obat melalui imunisasi. Karena sejauh ini cara pencegahan difteri dalam kurun waktu tertentu adalah melalui imunisasi.

Baca juga : Disdik Jabar Dituding Diskriminatif, Seragam Guru PNS dan Honorer Mau Dibedakan

“Pasien yang diduga kuat mengidap difteri tadi belum pernah diimunisasi karena kondisinya sering kali panas,” ungkapnya.

Diketahui, Difteri merupakan penyakit menular. Penyebab difteri disebabkan oleh racun bakteri yang membuat penebalan pada organ tubuh. Jika terjadi di tenggorokan, ini akan membuat penderitanya sulit bernapas. Jika terjadi di jantung, racun difteri bisa berpotensi gagal jantung.

Ketika tertular bakteri yang menyebabkan difteri, anak tidak akan langsung sakit. Perlu waktu sekitar dua minggu sampai bakteri bereaksi dengan membuat pembengkakan dalam organ tubuh. Namun, sebelum itu sebenarnya sudah ada beberapa gejala yang bisa diperhatikan.

Biasanya infeksi bakteri difteri akan mulai membuat anak sakit tenggorokan. Anak pun mungkin mengalami demam ketika bakteri tersebut sudah mulai menyebar di tubuhnya. Hanya saja, demamnya tidak tinggi berkisar 38 derajat Celcius. Saat demam, anak pun kerap menggigil. Demam ringan ini biasa berlangsung selama 48 jam. (wes/tif).

Baca juga

Leave a Comment