
Serum Anti Bisa
CIANJUR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur menyebutkan 2019 hanya menyediakan sebanyak 20 vial serum anti bisa untuk korban gigitan ular berbisa dengan tipikal jenis.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Cianjur, Rostiani Dewi, mengatakan, stok yang tersedia memang tidak banyak, karena jumlah permintaan serum anti bisa sedikit dari setiap layanan kesehatan.
“Serum anti bisa tersebut disimpan di gudang farmasi milik Pemkab Cianjur, dan bila ada puskesmas atau rumah sakit yang membutuhkan untuk penanganan korban gigitan ular berbisa, maka bisa mengambilnya,” kata dia. Minggu, (20/10/2019).
Menurutnya serum tersebut merupakan stok milik Pemkab Cianjur, khusus untuk rumah sakit bisa melakukan pengadaan. Dinkes hanya bersifat ketika tidak ada, maka dapat mengambilnya dari stok milik Pemkab.
Selain itu, kata dia, serum yang ada juga hanya untuk gigitan dari beberapa jenis ular berbisa, seperti untuk ular welang. Sedangkan jenis ular lainnya belum ada, karena memang belum banyak jenis serum anti bisa yang ada.
Namun di sisi lain, Snake Handlerer atau Pemerhati Ular, Muhammad Panji mengaku sempat kesulitan mendapatkan serum anti bisa saat menolong temannya yang terkena gigitan ular berbisa di Cianjur.
“Tahun lalu saya membantu teman yang terkena gigitan ular. Di rumah sakit tidak ada, di apotek pun sama tidak ada. Dapat itu dari teman di Bandung, dengan harga yang lebih mahal,” kata dia, saat dihubungi melalui telepon selular.
Dia menyayangkan penanganan medis yang dinilai tidak tepat. Menurutnya, petugas medis malah memberikan obat tetanus dan obat mual pada korban gigitan ular.
“Kalau saya tidak mencari serum mungkin tidak akan ada penanganan untuk gigitan bisa ularnya. Bahkan mungkin teman saya tidak selamat. Jadi diharapkan dari Pemkab Cianjur juga menyediakan lebih banyak serum anti bisa di setiap layanan kesehatan,” pungkasnya. (zie/naz)
