Telan Anggaran Rp17 Miliar, Alun-alun Karawang Kini Terlantar

KARAWANG – Alun-Alun Karawang, yang seharusnya menjadi jantung aktivitas sosial dan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat, kini menjadi sorotan karena kondisi fasilitasnya yang memprihatinkan. Sejumlah bangku rusak dan penerangan yang kurang memadai di beberapa area menjadi keluhan warga. Padahal tempat itu dibangun menggunakan anggaran Rp17 miliar.

Raman (35), seorang pengunjung, mengapresiasi fasilitas di luar Alun-alun, namun menyayangkan kondisi area dalam yang kurang terawat. “Sayang sekali fasilitas alun-alun ini rusak,” ungkap Raman, seraya berharap perbaikan segera dilakukan dan pengunjung turut menjaga fasilitas.

Sementara itu, Erskan (41) seorang pedagang, mengakui sulitnya mengawasi pengunjung, terutama anak-anak, yang kerap merusak fasilitas umum. Meskipun demikian, para pedagang secara mandiri menjaga kebersihan lapak mereka, didukung Karang Taruna. Erskan berharap ada perbaikan dari pemerintah, tetapi juga khawatir penataan masif akan mempersulit mereka berjualan.

Kondisi ini mencerminkan tantangan kompleks dalam mengelola ruang publik, yang membutuhkan keseimbangan antara kenyamanan pengunjung, pemeliharaan fasilitas, dan keberlangsungan usaha para pedagang. Perbaikan menyeluruh memang diharapkan, namun implementasinya harus mempertimbangkan semua aspek agar Alun-Alun Karawang dapat berfungsi optimal bagi semua pihak.

Menanggapi hal ini, Bupati Karawang Aep Syaepuloh, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah memiliki rencana. Terkait fasilitas yang rusak di alun-alun, Aep menjelaskan, “Itu urusan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Jawa Barat, nanti juga akan ditangani. Kemarin kami juga sudah berkomunikasi karena dulu itu adalah bantuan dari provinsi. Nanti akan kami tangani juga,” jelasnya.

Aep juga mengklarifikasi bahwa fokus revitalisasi pemerintah daerah bukan pada alun-alun secara keseluruhan yang sudah terbangun, melainkan pada area Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud). Ia memaparkan visinya untuk menjadikan Disparbud sebagai ikon seni dan budaya Karawang, yang juga akan menjadi wadah bagi UMKM.

“Saya juga sedang menata Disparbud untuk ke depannya. Disparbud ini, jadi saya ingin tempat itu dijadikan ikon bagi masyarakat. Berarti di situ ada UMKM. Jadi, Disparbudnya Dinas Cipta Karya, di sebelahnya, tetapi itu akan dijadikan tempat seni, tempat anak-anak budaya, karena di situ adalah warisan budaya Karawang,” urainya.

Aep memohon kesabaran masyarakat. “Mohon waktu. Insyaallah nanti kami juga sudah mencanangkan, mudah-mudahan di tahun depan sudah terlihat hasilnya,” ujarnya.

Terakhir, Aep menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga fasilitas publik. Ia berharap masyarakat tidak merusak fasilitas yang telah dibangun pemerintah, seperti GOR Panatayuda dan stadion yang sebentar lagi selesai. “Ini kan adalah fasilitas publik. Jadi, berharap mudah-mudahan bersama-sama bisa menjaga. Kami pemerintah daerah membangun. Ini juga untuk kebutuhan masyarakat, jadi harus bisa menjaga semua,” tutupnya, menyerukan tanggung jawab bersama untuk merawat aset daerah.(red) 

Baca juga