Melongok Kampung Cilele, Dusun Terpencil di Tengah Kawasan Industri

Sarana pendidikan di Kampung Cilele yang baru-baru ini dibangun oleh pihak swasta

KARAWANG-Di balik kemegahan sebuah kawasan industri, ternyata ada satu kampung terisolasi. Nama kampung itu Cilele yang hanya berjarak sekira 2 kilometer di belakang Karawang International Industrial City (KIIC).

Kampung itu berdiri di tengah hutan milik Perhutani, Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang. Ada sekira 100 kepala keluarga (KK) yang menghuni Kampung Cilele. Mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara berkebun.

Salah seorang warga Cilele, Oman (62) mengaku sudah menempati kampung tersebut sejak tahun 1990. Oman, sebenarnya lahir di Dusun Kaligandu, Wanajaya asli.

Namun dia memilih pindah ke Cilele setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai sopir angkutan umum. Dia pun menjajal profesi baru sebagai petani kebun.

Menurutnya, untuk menuju Kampung Cilele, sejak dahulu hingga sekarang hanya bisa dilalui melalui jalan berbatu dan tanah. Ketika kemarau bisa 50 menit perjalanan, namun ketika musim hujan bisa dua jam perjalanan.

Saat itu, kata Oman, banyak anak-anak di Kampung Cilele tidak bersekolah. Ia melihat banyak anak-anak yang harus sekolah membantu orang tuanya di kebun. Fasilitas sekolah yang sangat jauh menjadi alasan mereka tidak bersekolah.

Maka di Tahun 1999, Oman menyebutkan ia mulai bertekad untuk membangun tempat belajar baca dan tulis untuk wilayah pelosok Karawang tersebut.

Kemudian Oman pun membangun kelas baca tulis. Saat itu tempatnya dibangunkan oleh warga sekitar dengan kayu dari perkebunan warga.

Kelas baca itu tanpa tembok maupun kaca. Hanya berupa gubuk seperti pos ronda. Dirinya mengajar sambil mengurus kebun miliknya.

Setahun pertama, Oman mengaku, jika dirinya bolak-balik. Ia mengajar tanpa bayaran. Kemudian di tahun berikutnya ia memilih untuk pindah ke Kampung Cilele demi fokus mengajar dan berkebun.

“Saya ajak istri dan anak untuk tinggal di sini, ” kata Oman kepada Tribun Jabar, Jumat (18/3/2022).

Kampung Cilele merupakan salah satu perkampungan terpencil di Karawang. Mereka baru menikmati listrik lima tahun terakhir, itu pun menggunakan solar cell. Untuk sinyal handphone pun hingga sekarang tidak pernah ada.

Kemudian, enam bulan sekolah di buka. Oman mengajak temannya yang merupakan seorang guru sekolah dasar. Ia pun ikut mengajar. Setelah itu, yang awalnya untuk tempat belajar baca dan tulis. Sekolah itu pun menjadi kelas jauh secara resmi untuk SDN Wanajaya III. Hanya dua orang pengajar saat itu.

“Angkatan pertama hanya 12 murid. Termasuk anak bungsu saya, ” katanya.

Lima tahun kemudian, kata Oman, datang seorang donatur. Saat itu donatur tersebut akan melakukan survei untuk membangun mushola di Kampung Cilele.

Tetapi, kemudian ia bertanya mengenai gubuk yang ada di depan rumah Oman. “Saya jelaskan kalau itu merupakan kelas, karena melihat kondisi kelas yang cukup parah. Donatur itu lebih memilih terlebih dahulu untuk membangun kelas dan setelah itu baru tahun berikutnya mushola, ” katanya.

Saat ini yang belajar di kelas jauh SDN Wanajaya III Kampung Cilele sebanyak 70 murid telah belajar. Untuk SMP dan SMA pun telah berdiri, hanya saja non formal. Untuk SMP sebanyak 45 murid dan SMA sebanyak 72 murid.

Untuk guru pengajar yang tersisa saat ini hanya Oman seorang. Awalnya ada beberapa guru lainnya. Guru pertama telah ditarik menjadi kepala sekolah, kemudian guru ke dua pun telah ditarik sekolah induk, sementara itu untuk guru sisanya ada yang mengundurkan diri.

“Terkadang kita juga dibantu oleh mahasiswa dan relawan untuk mengajar, ” katanya.(red)

Baca juga