Lagi, 8 Pengedar Narkoba Dibekuk Polisi, Satu Diantaranya Residivis Kambuhan

KARAWANG – Di akhir digelarnya Operasi Anti Narkotik (Antik) Lodaya 2023, Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Karawang kembali menangkap 8 pelaku pengedar barang haram itu. Dari delapan tersangka 6 di antaranya adalah pengedar Narkoba jenis sabu dan 2 tersangka pengedar obat keras tertentu (OKT).

Dari tangan para pengedar sabu, polisi menyita barang bukti 67,83 gram sabu dan 3,06 gram serbuk ekatasi. Sementara dari pengedar OKT disita 6500 butir Narkoba jenis pil hexymer dan tramadoltramadol serta uang tunai Rp 1,7 juta.

“Para pengedar sabu yang tertangkap adalah – MMF alias TB wilayah edar di Kecamatan Klari, FA alias Fadly wilayah edar Kecamatan Majalaya, SM alias Surya wilayah edar Kecamatan Majalaya, HKJ alias wilayah edar sekitar Ramayana, DTAP alias Ipang dan Hen yang biasa beroperasi di wilayah Karawang Kota,” ujar Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Karawang, Ajun Komisaria Arief Zainal Abidin, saat menggelar konferensi pers kasus itu di Mako Polres setempat, Senin (7/8/2023).

Sementara, lanjut Arowf, Narkoba jenis OKT diedarkan di Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat. Mereka mamasarkan barang haram itu dengan sasaran utama kalangan pelajar.

Dijelaskan Arief, para pengdar sabu menggunakan sistem tempel saat mendistribusikan jualannya. Ada juga yang berupaya mengelabui petugas dengan mengemas sabu dalam kemasan permen merek tertentu.

Salah satu pengedar sabu D(29) merupakan residivis kambuhan dalam kasus yang sama. Dari tangannya ditemukan barang bukti sabu 50 gram lebih.

“Tersangka D masih satu jaringan dengan tersangka TF (56), Lansia bandar sabu yang ditangkap lebih awal,” kata Arief.

Sementara, lanjut dia, OTK jenis hexymer dan tramadol dipasarkan di sebuah warung bekas tempat penjualan seblak. Para terasangka memanfaatkan warung kosong untuk bertransaksi dengan konsumennya.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, kata Arief, para tersangka Narkotika jenis sabu dijerat Pasal 114 Ayat (1) jo 112 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. “Tersangka dapat dipidana dengan ancaman hukuman minimal 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun kurungan atau hukuman mati,” jelasnya.

Sementara penyalahgunaan obat keras tertentu (OKT) Dijerat Pasal 196 Jo 197 yang berbunyi “Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu dan atau tidak memiliki izin edar, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun,” ucapnya.(red)

Baca juga

Leave a Comment