Empat Hari Tidak Ada Pengerjaan Jembatan Bailey, Warga Karsel Panik

KARAWANG – Pengerjaan jembatan sementara (bailey) Cicangor di Desa Ciptasari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang sudah empat hari terakhir ini terhenti. Hal itu membuat panik warga Karawang selatan.

Mereka khawatir jembatan sementara itu tidak bisa digunakan saat Lebaran 1446 H tiba. Akhirnya para tokoh Karawang selatan beriniat meminta bantuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) untuk ikut merakit jembatan bailey yang melintas di atas Sungai Cibeet tersebut.

Mereka juga menyeru kepada Gubernur Jabar Dedi Mulyadi hingga Presiden Prabowo Subianto agar ikut mendorong pengerjaan perakitan bailey supaya selesai sebelum Lebaran. “Kami memohon Pak Dedi juga Pak Prabowo ikut memikirkan nasib kami. Kami ingin merayakan Lebaran secara normal seperti orang lain. Jangan sampai perayaan Idul Fitri terhambat sarana transportasi,” ujar Didi, salah seorang tokoh masyarakat Karawang Selatan, Senin (17/3/2025).

Di tempat terpisah Bupati Karawang Aep Syaepuloh mengaku sudah berkomunikasi dengan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat agar jembatan sementara bisa selesai sebelum lebaran. Sebab pada momentum itu aktivitas transportasi masyarakat sangat tinggi.

Apalagi di Karawang selatan banyak objek wisata yang kerap dikunjungi masyarakat saat libur lebaran. “Kami mendorong pihak PU provinsi agar bekerja cepat,” katanya.

Ketika ditanya terkait terhentinya pengerjaan perakitan bailey di lapangan, Aep menyebutkan, hal itu merupakan bentuk kehati-hatian pekerja. Sebab kondisi di lapangan tidak selalu sama dengan rencana.

Pekerja, sambung dia, tidak mungkin memaksakan pekerjaan yang hasilnya nanti malah membahayakan pengguna jalan. “Ini yang sedang dicarikan solusinya, mungkin pengerjaannya agak lebih panjang,” katanya.

Terpisah, Anggota Komisi III DPRD Karawang sekaligus Ketua Fraksi NasDem, Mulyadi, menyoroti pemasangan Jembatan Bailey di Kampung Cicangor Hilir, Desa Ciptasari, Kecamatan Pangkalan, Karawang yang dinilainya kurang efektif dan berpotensi membahayakan.

Mulyadi yang latarbelakangnya kontraktor menyebutkan juga, jembatan bailey yang dipasang oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat seharusnya ditempatkan di lokasi yang lebih aman, bukan di dalam struktur jembatan yang amblas.

“Ini kan dipasangnya di atas jembatan eksisting, dalam arti tidak di bawah jembatan yang ada. Yang saya khawatirkan, kalau konstruksi jembatan lama tidak diambil dulu, ketika amblasnya semakin parah, jembatan bailey akan tergerus juga,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa secara umum, jembatan bailey biasanya digunakan sebagai jembatan darurat untuk menggantikan jembatan utama yang hanyut terbawa arus atau rusak total. Tetapi, dalam kasus ini, jembatan tidak rusak total tetapi ambles, dan jembatan bailey justru dipasang di dalam struktur jembatan eksisting yang ambles itu.

“Kalau jembatan lama semakin turun, maka bailey juga akan ikut terbawa. Itu enggak efektif menurut saya, kecuali bailey ada dalam posisi lain atau struktur lain,” tambahnya.

Mulyadi menilai pemasangan bailey ini terkesan terburu-buru tanpa kajian yang matang. “Biasanya bailey itu dipasang di samping jembatan yang rusak, seperti di Sukabumi. Ini harus jadi kajian juga, enggak asal pasang,” tegasnya.

Dalam hal ini, Mulyadi meminta agar Pemprov Jawa Barat terlebih dahulu membongkar sisa struktur jembatan lama sebelum memasang bailey. “Kalau menurut saya, dibongkar dulu, baru bangun jembatan bailey. Jangan diselubungkan seperti ini, itu tidak aman. Kalau suatu saat ambruk, bailey akan terkena juga,” ujarnya.(red) 

Baca juga