Dua Warga Tewas Kena DBD, Komisi IV Ingatkan Dinkes Karawang Waspadai DBD

Ilustrasi

KARAWANG-Anggota Komisi IV DPRD Karawang, Atta Subagja, mengingatkan Dinkes Karawang untuk mewaspadai gejala demam berdarah (DBD) yang mulai menyerang warga. Pasalnya, tercatat dua warga meninggal dunia karena diserang DBD hanya dalam waktu satu minggu.

“Dalam satu minggu terakhir saya menemukan dua kasus yang sama,” katanya, Senin (18/11/2019).

Atta menjelaskan, kasus pertama atas nama D (inisial-red), warga Dusun Krajan 1, Desa Pasirtanjung, Kecamatan Lemahabang, yang meninggal pada Senin (11/11/2019) dengan demam lebih satu minggu dan sempet dirawat di klinik swasta dan kemudian dipulangkan karena dianggap sudah membaik dan tidak demam.

Baca juga : Meningkat Tiap Tahun, Kasus DBD Jadi Perhatian Khusus Dinkes Purwakarta

“Tetapi tiba-tiba muntah darah satu minggu paska dirawat. Kemudian masuk rumah sakit, syok dan tidak tertolong. Sebelumnya sempat dicek lab dengan hasil lab trombosit 15 ribu,” ungkapnya.

Atta melanjutkan, sasus kedua atas nama A, warga Dusun Selang 2, Desa Ciwaringin, Kecamatan Lemahabang, demam selama tiga hari dan sempat berobat ke klinik swasta, tiga hari kemudian lemas hebat lalu dilarikan ke RS swasta pada Minggu (17/12/19).

“Pasien syok dan sempat cek leb trombosit 20 ribu dan pasien pun meninggal jam 21.30,” bebernya.

“Pasien meninggal dengan diawali syok dengan hasil laboratorium trombosit rendah sampai diangka dibawah 20 ribu memang cenderung bisa dipastikan didiagnosa demam berdarah (DHF). Hal ini bisa saja terjadi di musim seperti sekarang, yakni bukan musim penghujan,” timpalnya.

Baca juga : Membludak, Ribuan Peserta Semarakan Rangkaian HGN ke-74 di Galuh Mas

Menurutnya, belum musim penghujan bahkan masih kemarau panjang kadang menjadikan penyebab dokter menyingkirkan diagnosa demam berdarah. Karena memang biasanya habitat nyamuk demam berdarah dari genangan air hujan.

“Namun bukan tidak mungkin tidak ada nyamuk demam berdarah di musim kering seperti ini, apalagi kalau klinis dan pemeriksaan menunjukan ke arah diagnosa demam berdarah,” tandasnya.

Berpijak kasus di atas, kata Atta, kiranya harus menjadi perhatian dan pengawasan serius Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk merespon keadaan di atas dengan menindaklanjuti agar dapat mengantisipasi kasus serupa tdk terulang lagi.

“Karena cenderung mengecoh pola pikir tenaga medis,” pungkasnya. (red).

Baca juga