Biografi Singkat Prabowo, Dari Tentara Menjadi Menteri Pertahanan

Prabowo melambaikan tangan/net.

PRASASTIJABAR.COM-Kuat dan pantang menyerah, gambaran karakter seperti itu melekat pada sosok Prabowo Subianto. Pria kelahiran Jakarta pada 17 Oktober 1951 itu dikenal pantang menyerah mengikuti kontestasi Pilpres sejak 2004, hingga pada Pilpres 2019 ia berhadapan untuk kedua kali dengan Joko Widodo, sebelumnya pada 2014 ia pernah berhadapan dengan Joko Widodo.

Pendiri Partai Gerindra ini kendati kembali alami kekalahan di Pilpres 2019, nama Prabowo tak meredup di hati para pendukungnya. Bahkan, akhirnya ia bergabung dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai menteri pertahanan.

Prabowo merupakan putra pasangan Prof. Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Siregar. Ia pernah menikahi putri Soeharto, Siti Hediati Hariadi alias Mbak Titiek, meski akhirnya bercerai. Dengan Mbak Titiek, Prabowo memiliki seorang putra bernama Didit Prabowo.

Dilihat dari Keluarganya, Prabowo memiliki dua orang kakak perempuan yang bernama Bintianingsih dan Mayrani Ekowati, serta satu orang adik laki-laki yang kini menjadi seorang pengusaha andal yang bernama Hashim Djojohadikusumo.

Baca juga: Ini Daftar 38 Susunan Kabinet Jokowi, Tidak Ada Nama Susi Pudjiastuti

Prabowo mulai bersekolah di Sekolah Sumbangsih, Jakarta ketika usianya lima tahun. Pada tahun 1957 ketika pemberontakan PRRI pecah, Ayah Prabowo, Prof Soemitro Djojohadikusumo membawa semua keluarganya termasuk prabowo mengungsi ke Padang menumpang pesawat Dakota DC-3.

Prabowo kemudian disekolahkan di British Elementary School, Singapura. Namun gejolak politik negara Singapura kala itu yang lebih memilih menjaga hubungan baik dengan presiden Soekarno membuat Prabowo beserta orang tuanya pindah ke Hongkong pada tahun 1962.

Di Hongkong, Ayahnya mendaftarkan Prabowo beserta saudaranya di Glenealy Junior School. Ayahnya membuka bisnis konsultan ekonomi disana. Namun Prabowo hanya tinggal dua tahun disana dan pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia.
Selepas di Malaysia, Prabowo dan keluarga pindah ke Swiss. Di Swiss, Prabowo bersekolah di American International School dan mulai belajar bahasa Jerman dan Prancis.

Kemudian Prabowo dan keluarga kembali pindah ke Inggris. Prabowo kemudian kembali melanjutkan sekolahnya di American International School hingga tahun 1968. Setelah itu Prabowo kemudian kembali ke Indonesia.

Karir Militer
Prabowo masuk ke Akademi Militer pada 1970 dan lulus pada 1974. Pada 1976, Prabowo ditugaskan sebagai Komandan Pleton Para Komando Grup I Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) dan ditugaskan sebagai bagian dari operasi Tim Nanggala di Timor Timur.

Singkatnya, Prabowo diangkat sebagai Komandan Jenderal Kopassus pada 1995. Jelang kejatuhan Soeharto, di bulan Maret 1998 Prabowo memegang lagi pasukan yang jumlahnya lebih besar dari Kopassus. Dia kembali ke Kostrad sebagai panglima, jabatan yang sama dengan mertuanya dulu di tahun 1965—jelang naiknya Soeharto jadi presiden. Karena jabatan itulah bintang di pundaknya bertambah menjadi tiga: letnan jenderal.
Namun karena buntut konflik politik waktu itu, Prabowo dicopot jabatannya oleh Presiden Habibie dan memindahkannya jadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI, setelah itu karir militer Prabowo mulai meredup.

Jadi Pengusaha
Setelah karir militernya tamat, Prabowo banting setir jadi pengusaha ikuti jejak adiknya Hasyim Djojohadikusumo. Karir Prabowo sebagai pengusaha dimulai dengan membeli Perusahaan Kertas yaitu Kiani Kertas, perusahaan pengelola pabrik kertas yang berlokasi di Mangkajang, Kalimantan Timur.

Selain mengelola Kiani Kertas, yang kini menjadi Kertas Nusantara, kelompok perusahaan Nusantara Group yang dimiliki oleh Prabowo juga menguasai 27 perusahaan di dalam dan luar negeri. Usaha-usaha yang dimiliki oleh Prabowo bergerak di bidang perkebunan, tambang, kelapa sawit, dan batu bara.

Jadi Politikus
Setelah sukses menjadi seorang pengusaha, Prabowo Subianto kemudian memulai peruntungan kariernya di bidang politik, berbekal pengalaman serta reputasinya. Prabowo mendirikan Partai Gerindra pada 6 Februari 2008. Dengan Gerindra, Prabowo menjadi cawapresnya Megawati Soekarno Putri.

Lalu pada 2014, Prabowo kembali ikut bertarung di Pilpres dengan cawapresnya Hatta Rajasa berhadapan dengan pasangan Joko Widodo dan Yusuf Kalla. Kembali Prabowo alami kekalahan. Namun kekalahan itu tak membuat nyalinya ciut. Pada Pilpres 2019, kembali tarung dengan cawapresnya Sandiaga Uno, lawan yang dihadapinya Joko Widodo dan K.H. Ma’ruf Amin. Untuk ketiga kali, Prabowo kembali kalah.

Jadi Menteri
Usai dilantik jadi presiden, Jokowi segera merangkul Prabowo untuk merapat ke Istana Negara. Prabowo pun menyambut baik tawaran Jokowi untuk bergabung dalam jajaran Kabinet Indonesia Kerja Jilid II. Pada Rabu (23/10/2019), Prabowo resmi menjadi menteri pertahanan. (red).

Sumber : biografiku.com

Baca juga