BANYAK MACAN TUTUL BERKELIARAN, AMANKAH MENDAKI GUNUNG SANGGABUANA?


KARAWANG-Baru baru ini, Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa Sanggabuana yang dibentuk oleh TNI AD dan Sanggabuana Conservation Foundation melaporkan 198 aktifitas macan tutul jawa di Pegunungan Sanggabuana. Dari 198 aktifitas Macan Tutul Jawa yang teridentifikasi, didapat 19 individu, dan satu ekor membawa anaknya dua ekor.

Ekspedisi yang dilakukan sejak Februari 2025 dan dilepas oleh KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, M.Sc ini ditujukan untuk menghitung populasi Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) yang ada di kawasan hutan Sanggabuana. Selain menghitung populasi dan sebaran, ekspedisi juga bertujuan untuk mendapat data preferensi satwa mangsa, mitigasi potensi konflik satwa liar, dan juga edukasi kepada masyarakat.

Lalu dengan banyaknya Macan Tutul Jawa di Sanggabuana, amankah mendaki Gunung Sanggabuana? Mengingat Gunung Sanggabuana, setiap weekend selalu ramai oleh pengunjung, baik yang melakukan treking, ziarah, maupun olahraga trail run ke puncak Gunung Sanggabuana yang mempunyai ketinggian 1.300 m dpl.

Bernard T. Wahyu Wiryanta, Leader Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa Sanggabuana memberikan jawabannya. Menurut Bernard, jalur pendakian atau jalur ziarah Gunung Sanggabuana yang melewati Desa Mekarbuana masih aman untuk dilalui. Walaupun, kamera jebak yang dipasang di jalur pendakian juga merekam macan tutul dan macan kumbang, tetapi menurut Bernard, macan tutul akan cenderung menghindar dari manusia.

“Masih aman, yang penting tidak keluar dari jalur resmi yang sudah ditetapkan oleh pengelola.” Tegas Bernard. Dari data yang dihimpun oleh SCF, di beberapa titik pemasangan kamera juga didapati macan tutul dan macan kumbang bergantian melewati jalur dengan pengunjung Gunung Sanggabuana. Dari video rekaman kamera trap tampak macan tutul dan macan kumbang melewati jalur yang sama dengan yang dilewati oleh para peziarah, pendaki gunung dan pengunjung yang melakukan trail run di Gunung Sanggabuana. Bernard kemudian memberikan dua foto di lokasi yang sama, yang merekam aktifitas manusia yang melakukan trail run dan foto satu lagi aktifitas macan kumbang. Ketika dua foto digabungkan, tampak aktifitas macan dan manusia di titik jalur yang sama.

Fotografer dan peneliti satwa liar ini juga menjelaskan, jika bertemu dengan macan tutul atau macan kumbang, tidak perlu panik. Yang bisa dilakukan oleh pengunjung adalah tenang, berhenti, dan jika meungkinkan menciptakan bunyi-bunyian seperti menggunakan alat masak camping berbahan logam. “Misalnya punya peluit, juga bisa dibunyikan, ini akan memberi tanda ke macan kalau ada manusia, dan biasanya macan akan menyingkir. Beberapa kali Ranger kami juga berpapasan dengan macan di hutan, bahkan dalam jarak 6 m, tidak apa apa.” Bernard menjelaskan.

Namun Bernard kembali menegaskan bahwa aktifitas pengunjung Sanggabuana hanya diperbolehkan di jalur resmi pendakian saja, termasuk di beberapa obyek wisata alam seperti Curug Cigeuntis, Curug Cikoleangkak, Curug Bandung, dan Curug Cipanunda. Selain di jalur wisata tidak diperkenankan. Apalagi sampai membawa senjata api maupun senapan angin untuk berburu.

“Bersama TNI, Polri dan Polhut Perhutani secara rutin kami akan melakukan patroli untuk meindak para pemburu yang berburu satwa liar masuk kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana. Tidak hanya perburuan satwa saja yang akan kami proses, tetapi juga penggunaan senjata api dan senapan angin ilegal.” Tutup Bernard.(red) 

Baca juga