fbpx

Sidak ke Tanjung Priok, Komisi IV DPR RI Temukan 70 Kontainer Sampah Impor

Dedi Mulyadi bersama Komisi IV DPR RI saat melakukan sidak ke Tanjung Priok

NASIONAL-Anggota Komisi IV DPR RI menemukan adanya 70 kontainer sampah impor saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di kawasan berikat Pelabuhan Tanjung Priok. Temuan tersebut pun di unggah dalam akun facebook ‘Kang Dedi Mulyadi’ salah seorang Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar.

“Saya bersama para anggota Komisi IV DPR RI melakukan kegiatan inspeksi di kawasan berikat Pelabuhan Tanjung Priok. Ini kami lakukan atas informasi tentang keberadaan sampah impor dalam kontainer. Seluruh kontainer ini merupakan milik PT New Harvestindo Internasional dan PT Advanve Recycle Teknologi,” tulisnya di halaman facebook, Kamis (23/1/2020).

Selain temuan 70 kontainer sampah impor, Dedi juga menginformasikan akan ada 1.015 kontainer sampah impor yang siap masuk melalui seluruh pelabuhan di Indonesia.

Baca Juga: Bahas Sungai Cilamaya, Dedi Mulyadi Segera Temui Menteri Perindustrian

“Setelah kami sampai di lokasi, ternyata benar terdapat 70 kontainer sampah di Tanjung Priok dan akan bertambah lagi sebanyak 1.015 kontainer, masih berisi sampah. Jumlah tambahan itu akan masuk melalui seluruh pelabuhan di Indonesia,” tuturnya.

Dedi menyebut, importir sempat berargumentasi bahwa sampah tersebut diimpor untuk kepentingan bahan baku biji plastik sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Perdagangan. Akan tetapi, dalam peraturan tersebut ditegaskan bahwa bahan baku yang diimpor haruslah bersih bukan sampah.

“Hampir terjadi ketegangan antara kami para anggota Komisi IV DPR RI dan petugas Sucofindo selaku surveyor impor sampah tersebut. Setelah saya tegur keras, akhirnya diakui bahwa barang impor tersebut adalah sampah, bukan bahan baku,” tulisnya.

Baca Juga: Ini Pesan Komisi II DPR RI untuk Penyelenggara Pilkada Karawang

“Terus terang saja, saya merasa miris dengan hasil temuan ini karena sampah ini bisa lolos dan dianggap aman melalui jalur hijau. Hari ini Indonesia sedang mengalami problem penanganan sampah di berbagai tempat, kok masih ada perusahaan pengimpor sampah dari luar negeri?” ungkap dia.

Padahal, lanjut Dedi, untuk sekedar bahan baku biji plastik, para pemulung dan pengepul di Indonesia pun bisa mengumpulkan banyak sampah. “Masa sih, importir mau bersaing dengan para pemulung dan para pengepul sampah itu?” ucapnya.

“Jika ditinjau dari persfektif pergaulan antar negara, fenomena ini sama saja dengan menganggap Indonesia sebagai tempat sampah dunia,” pungkas dia.(red)

Baca juga

Leave a Comment