Sate Maranggi Plered Jadi Hal Wajib Wisatawan

Wiskul Plered menjadi destinasi wisata kuliner andalah Purwakarta.

PURWAKARTA – Selain memiliki sejumlah destinasi objek wisata, Kabupaten Purwakarta juga terkenal dengan kulinernya yang khas dan beragam. Namun, saat mengunjungi Purwakarta, tidak pas rasanya sebelum menyantap kuliner yang sangat penomenal yaitu Sate Maranggi.

Untuk menemukannya, wisatawan biasanya akan menuju wilayah Kecamatan Plered yang konon merupakan tempat awal mulanya lahir Sate Maranggi. Untuk memudahkan pemburu sate maranggi, pemerintah kabupaten pun berinisiatif membuat tempat Wisata Kuliner (Wiskul) Plered tempat pedagang Sate Maranggi dipusatkan.

Wiskul tersebut mudah ditemukan karena berlokasi di jantung kota. Tepat di depan Kantor Kecamatan Plered bahkan tepat disamping Stasiun Kereta Api Plered. Para pedagang sate maranggi pun mulai berjualan mulai pukul 07:00 WIB hingga malam hari.

Rini (41), warga Kota Bandung mengatakan, dalam satu bulan, dua sampai tiga kali ia bersama keluarga datang ke wisata kuliner Plered dengan menaiki kereta api. Meski di beberapa daerah hingga luar provinsi pun terdapat kuliner serupa, namun untuk Sate Maranggi tetap harus di Plered.

“Sengaja saja datang ke Plered hanya untuk makan sate maranggi, meski di Bandung juga banyak sate. Tapi tetap kalau sate maranggi harus di Plered, lebih khas rasanya,” ujar Rini. Minggu, (25/8/2019).

Selain soal rasa, ditambahkan Rini, akses menuju Plered mudah dan berada di jalur wisata, salah satunya rute Kereta Api.

“Sambil jalan-jalan saja bawa anak- anak naik kereta api, keluar stasiun kita langsung makan sate, habis itu baru jalan ke tempat lain sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta ke Bandung,” ujarnya.

Sementara Nuraeni (43), salah satu pedagang sate maranggi di Wiskul Kecamatan Plered mengaku dirinya berjualan sate maranggi sejak pertama kali Wiskul dibangun. Setiap harinya Wiskul tersebut tak pernah sepi pengunjung.

“Warga Purwakarta juga ada, tapi paling banyak dari luar kota terutama Bandung. Apalagi di hari libur jumlah pengunjung meningkat dari hari biasanya,” ujarnya.

Untuk harga, Nani mematok sate maranggi Rp 1.700 pertusuk, Rp 15.000 untuk harga sop dan nasi Rp 3.000 perbungkus. Nani menyiapkan sate maranggi setiap harinya tidak kurang dari 1.000 tusuk. Jumlah itu akan meningkat jika dihari libur.

“Setiap hari paling habis 500-700 tusuk, tapi kalau hari libur 1.000 – 1.500 tusuk,” kata dia.

Diketahui, Wiskul dibangun pemkab Purwakarta sekitar 2013 lalu. Sebelumnya lahan tersebut merupakan pasar tradisonal Plered. Namun saat ini lahan tersebut selain dibangun Wiskul juga Kantor Kecamatan Plered, dan para pedagang direlokasikan ke Pasar Citeko. (wes/naz)

Baca juga

Leave a Comment