REHABILITASI SPESIES DAN HABITAT OWA JAWA DI SANGGABUANA , AOP BERKOLABORASI DENGAN SCF BANGUN RUMAH BIBIT EKS SITU

KARAWANG – Setelah sebelumnya melakukan pendataan secara komprehensif populasi, sebaran, serta preferensi pakan, dan mitigasi potensi ancamam terhadap owa jawa (Hylobates moloch) di Pegunungan Sanggabuana, kali ini Astra Otoparts Group berkolaborasi dengan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) dan Perum Perhutani membuat rumah bibit eks situ di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat.

Rumah bibit dengan target bisa memproduksi bibit pohon sebanyak 20.000 pohon per tahun ini dibangun di lahan Perum Perhutani KPH Purwakarta, BKPH Pangkalan di area Wana Wisata Puncak Sempur, Desa Cintalaksana, Kecamatan Tegalwaru, Karawang, Jawa Barat.

Edwin Suhendra, HCGS Division Head PT Astra Otoparts (AOP) bersamaan dengan Hari Bumi 22 April 2026 pada saat meresmikan Rumah Bibit Puncak Sempur mangatakan bahwa rumah bibit ini dibuat sebagai bentuk kolaborasi antara AOP, Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) dan Perum Perhutani. Menurut Edwin, rumah bibit ini akan dikelola bersama dan tujuan utamanya adalah untuk merehabilitasi habitat owa jawa dan primata lainnya di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, serta untuk memperbaiki koridor satwa yang terputus.

“Apa yang kita lakukan ini merupakan langkah kecil yang akan membawa dampak yang lebih besar di lingkungan kita, terutama di kawasan Pegunungan Sanggabuana.” Tutup Edwin.

Sementara itu Bernard T. Wahyu Wiryanta, Founder Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) ditemui di Basecamp Ranger Puncak Sempur setelah peresmian rumah bibit menjelaskan bahwa rumah bibit ini akan dipakai untuk memproduksi bibit tanaman kehutanan yang menjadi sumber pakan alami primata, terutama owa jawa, dan jenis primata lainnya. Serta untuk rehabilitasi mata air di sekitar blok Dindingari seluas kurang lebih 60 hektar.

“Ini salah satu langkah kita untuk merehabilitasi habitat satwa dilindungi yang ada di kawasan hutan Sanggabuana. Serta awal dari program jangka panjang untuk memperbaiki koridor satwa terutama primata. Yang akan kita sebut jalan tol primata di Sanggabuana.”.

Dari hasil pendataan oleh SCF sampai saat ini sudah terdata 483 jenis satwa liar yang ada di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana. Dari 483 jenis satwa liar yang ada 50 jenis diantaranya adalah satwa dilindungi. Kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana juga merupakan rumah dari 5 jenis primata. Yaitu owa jawa (Hylobates moloch), lutung sunda (Trachypithecus mauritius), surili (Presbytis comata), kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Blok Dindingari yang ada di Puncak Sempur merupakan habitat dari 5 jenis primata tersebut.

Menurut Bernard, kelima jenis primata yang mendiami hutan Blok Dindingari tersebut mempunyai pakan alami yang hampir sama, tetapi populasinya mulai berkurang, sehingga perlu ditambah populasi pohon pakan alami untuk primata tersebut.

“Kami bersama dengan Perhutani dan AOP sepakat untuk tidak hanya melakukan upaya konservasi terhadap spesies owa jawa di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, tetapi juga melakukan konservasi habitatnya. Yang perlu dilakukan diantaranya menambah populasi pohon tidur dan pohon pakan owa jawa yang ada. Selanjutnya membuat koridor dan menyambung koridor yang terputus, paling tidak sepanjang 20 km, yang kami sebut jalan tol primata. Dan kami mulai dengan membuat rumah bibit in situ dan rumah bibit ex situ di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana.” Tutup Bernard.

Kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana sendiri pada awal April 2026 sudah mulai diproses oleh Kementerian Kehutanan untuk menjadi kawasan konservasi berupa Taman Hutan Raya. SCF mengajukan usulan perubahan fungsi kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi sejak tahun 2021.(red)

Baca juga