Produksi Keramik Plered Turun Hingga 30 Persen

Proses pembuatan keramik di Plered Kabupaten Purwakarta

PURWAKARTA-Memasuki munsim penghujan, produksi kramik Plered, Kabupaten Purwakarta mengalami penurunan hingga 30 persen. Hal itu, karena proses pengeringan keramik masih menggunakan panas matahari langsung.

Salah seorang pengrajin keramik, Dede (43) mengungkapkan, penurunan produksi keramik siap jual mencapai 30 persen. Meski begitu, tidak ada kendala terhadap distribusi keramik ke pelanggan.

Baca Juga: Angka Kunjungan Sentra Keramik Plered Selama 2019 Capai 11 Ribu Orang

“Kalau pengiriman ke luar belum terpengaruh, karena hampir semua pengrajin saat musim kemarau kemarin sudah banyak stok keramik mentah yang sudah kering, jadi saat ini tinggal finishing atau pewarnaan saja,” ungkap Dede, Senin (6/1/2020).

Selain itu, lanjut Dede, proses pembakaran keramik yang masih mengandalkan cara tradisional yaitu dengan proses pembakaran menggunakan kayu bakar turut terpengaruh akibat musim penghujan. Namun Ia memastikan kuantitas dan kualitas keramik Plered tidak akan berubah dengan adanya sejumlah permasalahan dalam proses produksi tersebut.

Baca Juga: Ikuti Tren Pasar, Pengrajin Keramik Plered Terus Berinovasi

“Diproses pembakaran, kita juga di sulitkan dengan kayu bakar yang susah dan basah. Kalau pun masih ada stok kayu kering paling hanya cukup beberapa bulan saja. Tapi tetap untuk menjaga pelanggan, kualitas tetap kita jaga apa pun kondisi di sini,” terangnya.

Pengrajin keramik lainnya, Ipin (27) menuturkan, proses pengeringan keramik membutuhkan waktu yang cukup lama saat musim penghujan seperti saat ini.

“Kalau produksi tetap berjalan, cuma di proses pengeringan yang lebih memakan waktu. Jika musim kemarau cukup dijemur satu minggu saja, kalau sekarang sepertinya bisa sampai satu bulan, tergantung cuaca,” tandasnya.(wes/zak)

Baca juga