
Tugu Peluru
PURWAKARTA-Prasasti berbentuk peluru sengaja dibangun oleh warga di Kampung Sukajaga RT 08/RW 03, Desa Cihanjawar, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta.
Bukan tanpa alasan, tugu yang biasa disebut masyarakat sekitar dengan sebutan tugu peluru itu, sengaja dibangun sebagai penghargaan masyarakat atas peristiwa kelam yang terjadi pada 7 orang pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Jadi di lokasi tugu peluru tersebut, merupakan lokasi dimana ada 7 pejuang dieksekusi tentara Belanda dengan cara dibrondong tembakan,” terang Kades Cihanjawar, E Nurhayat, saat membuka percakapan dengan Prasastijabar.co.id. Rabu, (30/9/2020).
Sesuai tulisan yang tertera pada prasasti tugu peluru, lanjut Kades yang akrab disapa Babab itu, peristiwa tersebut terjadi pada kisaran tahun 1948 silam atau pada serangan Belanda yang terkenal dengan sebutan Agresi Belanda II.
“7 orang korban keganasan Belanda yang dieksekusi di tugu peluru itu yakni bernama, Enos Sanosi, Jamhur, Jakaria, Oji, Adung, Oha dan Arja,” ucapnya.
Diketahui, Tugu peluru sendiri mulai dibangun masyarakat setempat pada tahun 1980 atau masa jabatan PJS desa Cihanjawar bernama Ruslan. Kala itu, masa awal-awal pemekaran desa Cihanjawar dari desa Pasanggrahan.
Tugu peluru yang berbentuk persis seperti peluru dalam posisi berdiri tegak itu juga dibangun sebagai saksi bisu jika dilokasi tersebit pernah terjadi peristiwa yang harus dikenang masyarakat hingga saat ini.
Seiringnya waktu, tugu peluru pun sudah beberapa kali dilakukan perbaikan atau pemeliharaan dan terakhir kali hal itu dilakukan sejumlah mahasiswa dari Jakarta yang tengah KKN di desa Cihanjawar pada tahun 2018 lalu.
“Tugu peluru itu intinya memiliki nilai sejarah terutama bagi masyarakat disini(Cihanjawar- red) makanya itu tugu peluru hingga saat ini tetap dipelihara dan dijaga,” pungkasnya.(wes/zak)
