Prihatin, Sembilan Anggota Keluarga Berdesakan Tinggal di Rumah Tidak Layak Huni

Deki tunjuki kondisi rumahnya.

PURWAKARTA-Hidup dalam keluarga sangat sederhana mungkin terpaksa harus dijalani Deki Tirtana (18) bersama kelurganya yang tinggal di Kampung Hanura, Rt 14/RW 05, Desa Malangnengah, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta.

Deki yang lahir dari pasangan Joni (63) dan Sapnasih (58) itu, mempunyai total sembilan saudara kandung dan tinggal di rumah sangat sederhana bahkan terlihat tak layak huni.

Dari pantauan Prasastijabar.co.id, rumah dengan memiliki luas sekitar 6×12 meter itu, sebagian atap rusak dan dinding bilik sudah terlihat rusak di sejumlah bagian.



“Kalau hujan pada bocor dan karena dinding bilik sudah pada rusak, angin juga tembus ke dalam rumah,” ucap Deki saat ditemui di rumahnya. Jumat (16/10/2020).

Diketahui, Deki saat ini tercatat sebagai siswa kelas 11 jurusan IPS di SMAN 1 Sukatani. Karena hal itu, Deki pun mendapat bantuan dari pihak sekolah untuk perbaikann rumah hingga dipinjamkannya smart phone untuk belajar secara daring.

“Alhamdulilah, dari pihak sekolah sudah meberikan bantuan untuk perbaikan dan juga smartphone untuk belajar,” ujarnya.

Baca juga : Percepat Penanganan Covid-19, Disporaparbud Purwakarta Libatkan Pemuda

Sementara,Sapnasih (58), ibu dari Deki menuturkan, mata pencaharian dirinya dan suaminya hanyalah buruh tani atau serabutan lainnya. Untuk membiayai keperluan sekolah anak- anaknya, tak jarang sejumlah keperluan tidak dapat terbayarkan.

“Kalau ada uang ya dibayar, kalau gak ada ya mau bayar pakai apa. Bapak Deki kerjanya cuma kuli tani itu pun kalau musim tanam, sekedar bantu- bantu buat makan kadang saya juga ikut kuli dan kuli cuci pakaian di tetangga,” tuturnya.

Dari keseluruhan anaknya yang berjumlah 10 orang, lanjut Sapnasih, tiga anak di antaranya meninggal dan satu orang anaknya sudah menikah dan memilih tinggal ditempat mertuanya.

Selain Deki, dua orang anaknya juga masih sekolah dan terkadang memerlukan biaya untuk keperluan sekolahnya.

“Yang masih sekolah ada dua lagi yakni adik- adik Deki, masih di SMP dan SD. Sampai sekarang masih punya utang ke sekolah dan belum bayar karena tidak ada uang, buat bayar baju batik sama olahraga,” lirihnya.

Terkait ekonomi keluarga hingga kondisi rumahnya yang tak lagi layak huni, menurut Sapnasih, hingga saat ini belum ada bantuan dari pihak pemerintah. Meski begitu, dirinya mengakui sempat didatangi pihak desa untuk mendata dan mengambil gambar kondisi rumahnya tersebut.

“Dulu pernah ada orang desa mendata dan rumah di foto, tapi hingga saat ini belum ada bantuan, gak tau kenapa. Cuma sekarang baru ada bantuan itu pun dari pihak sekolah Deki berupa bahan- bahan bangunan dan biaya untuk bayar tukangnya. Meski belum tentu mencukupi, ya alhamdulilah sangat membantu dan semoga kedepannya saya dan keluarga mendapat perhatian lagi dari dermawan atau pihak lainnya,” pungkasnya. (wes/tif).

Baca juga

Leave a Comment