
Tajug Gede Cilodong Purwakarta
PURWAKARTA-Dibalik keindahan dan kenyamanan Tajug Gede Cilodong, Kabupaten Purwakarta, ada makna dari konsep pembangunan yang dilakukan di tanah seluas 10 hektare tersebut.
Ketua DKM Masjid Tajug Gede Cilodong, Dedi Mulyadi mengatakan, orang-orang selama ini memahami tajug itu secara statis yakni sebagai tempat salat.
Namun dirinya memahami tajug secara dinamis dan universal yang tidak hanya sekedar tempat salat, melainkan juga terdapat sejumlah fasilitas lain seperti taman, area olahraga hingga area pertanian atau perkebunan. Sehingga masyarakat yang datang ke tajug juga dapat melakukan rekreasi, relaksasi dan rekreatif.
“Jadi, semua terintegrasi dalam satu konsep, yakni tajug,” kata pria yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPR RI itu.
Dengan konsep seperti itu masyarakat yang datang ke tajug akan masuk dalam keparipurnaan. Ditambah lagi di sana terdapat pula perpusatakaan baik manual maupun digital.
Semua fasilitas yang ada diharapkan menjadi pusat rekreatif serta tuntutan dalam bentuk sebuah masyarakat yang mendekati kepada masyarakat yang urban.
“Itu penting. Tajug Gede ini memelopori sebuah konsep pembangunan masjid yang mendekati dua pendekatan, yakni pendekatan urban dan tradisional,” ujarnya.
Pendekatan urban, kata Dedi, dilakukan dengan multifungsi dan digitalisasi. Sedangkan tradisional dilakukan lewat pendekatan arsitektur.
“Ada lagi pendekatan kearifan lingkungan dalam tajug itu, seperti tak menggunakan pendingin ruangan, lalu ketika siang hari tak menggunakan lampu, tajug pun memiliki sirkulasi pengelolaan air bersih sehingga nantinya air bekas wudu menjadi tetap air bersih dan siap minum yang sedang kami buat,” ujar mantan Bupati Purwakarta dua periode itu.(red)
