
Kampung Tajur yang ada di Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta
PURWAKARTA-Wisata berbasis edukasi dan pengenalan budaya kehidupan masyarakat perkampungan yang berada di Kampung Tajur, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta belum sepenuhnya kembali dibuka untuk wisatawan dari luar daerah.
Hal itu dilakukan pemerintah Desa setempat untuk menghindari resiko penyebaran COVID-19 yang hingga kini masih menjadi pandemik. Selain itu juga untuk menghindari jika virus tersebut tanpa disadari terbawa sebagian wisatawan.
“Karena wisatawan yang datang, biasanya mereka bermalam atau tinggal bersama penghuni rumah yang ia sewa atau berbaur langsung dengan warga. Untuk itu, sementara waktu kami belum menerima tamu dari luar terutama dari daerah perkotaan seperti, Bandung, Jabodetabek dan kota lainnya yang selama ini masuk dalam zona merah penyebaran COVID-19,” kata Pjs Desa Pasanggrahan, Agus Koswara, Kamis (27/8/2020).
Meski begitu, lanjut Agus, di sejumlah lokasi di Kampung Tajur sudah terpasang sepanduk imbauan protokol kesehatan hingga penyediaan tempat cuci tangan serta penyemprotan disinfektan. Namun, hal itu tidak menjamin jika virus tersebut masuk ke kampung yang selama ini jadi rujukan pelajar dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi tersebut.
“Intinya kita tetap tidak akan mengambil risiko, kita tidak ingin ada warga yang terpapar dan itu jelas akan semakin berdampak pada kehidupan warga disini,” ucapnya.
Diketahui, sejak pandemik COVID-19 terjadi, belasan pengajuan dari berbagai sekolah sementara ditolak. Terlebih, sekolah tersebut dari sejumlah kota di ibu kota.
“Kurang lebih sudah ada pengajuan kunjungan dari sekitar 15 sekolah, umumnya dari Jabodetabek. Dan terpaksa kita panding, menunggu situasi penyebaran Covid-19 ini benar-benar aman,” terangnya.
Sementara, Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, Irfan Suryana menambahkan, meski secara umum pihaknya sudah mengijinkan tempat wisata (Tidak terkecuali Kampung Tajur-red) untuk kembali buka dan menerima wisatawan, namun dalam prakteknya dikembalikan pada kesiapan pengelola tempat wisata tersebut.
“Nah untuk Kampung Tajur, kita tidak bisa memaksa harus buka dan menerima tamu, itu dikembalikan kepada warga dan pemerintah setempat. Kalau memang saat ini masih berisiko, kita maklum. Sebab disana(Kampung tajur- red) wisatawan langsung berbaur bahkan terkadang tinggal dengan masyarakat. Jadi resikonya cukup tinggi,” jelasnya.
Menanggapi hal itu, Irfan juga tak menampik jika warga setempat kehilangan penghasilan tambahan dari sewa rumah selama menutupan, bahkan secara tidak langsung berdampak terhadap jumlah kunjungan wisatawan di Purwakarta.
Sebagai upaya, lanjut dia akan mendorong warga mengembangkan ekonomi kreatif seperti membuat asesories gantungan kunci bernama Kampung Tajur dan lainnya. sehingga kedepan warga dapat memiliki penghasilan lain disamping menyewakan rumah dan rutinitas keseharian lainnya.
“Nanti kita akan kerja sama dengan Dinas Perdagangan untuk pemasaran hasil dari UMKM nya, sementara saat ini kita fokus menjaga kesehatan warganya dahulu,” pungkasnya.(wes/zak)
