Puluhan Tahun Nikah Siri, Pasutri Ini Akhirnya Punya Buku Nikah Resmi

Pasangan Pasutri yang Tak Lagi Muda Ini Berkesempatan Nikah Resmi dan Mendapatkan Buku Nikah. (Foto : Uwes/Praja).

PURWAKARTA-Ratusan pasangan nikah siri akhirnya bisa mendapatkan buku nikah resmi secara gratis melalui sidang isbat massal yang digelar pemerintah Kabupaten Purwakarta di kantor Kecamatan Bojong,Kabupaten Purwakarta, Jumat, (9/8/2019).

Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika, mengatakan, Pemkab Purwakarta targetkan ada 400 pasangan suami istri yang akan mendapatkan buku nikah gratis melalui sidang isbat massal di tahun 2019 dan 1.000 pasutri di 2020 nanti.

“Di mulai dari Kecamatan Sukasari, Maniis, dan terakhir di Kecamatan Bojong target 400 pasutri yang mendaptakan buku nikah gratis sudah selsai dan mudah-mudahan tahun depan 1.000 pasangan yang mendapatkan buku nikah gratis melalui sidang isbat massal ini,” ucap wanita yang akrab disapa Ambu Anne itu usai kegiatan digelar.

Alasan mengikuti nikah isbat banyak faktor, ucap Ambu, di beberapa desa termasuk di Kecamatan bojong ini, ketika menikah rata-rata itu belum cukup umur sehingga belum punya kartu identitas seperti KTP dampaknya pernikahannya itu tidak bisa di daftarkan ke KUA.

“Kalau di desa masih ada yang nikah masih belum cukup umur, jadi tak jarang mereka melangsungkan pernikahan siri. Selain itu faktor ekonomi juga menjadi salah satu alasan dari pasangan yang ikut dalam isbat massal ini,” imbuhnya.

Surat nikah saat ini banyak diperlukan untuk kepengurusan sejumlah dokumen dan menjadi syarat utama dalam berkeluarga hingga kelangsungan hidup lainnya, sehingga kepemilikan surat nikah bukan semata simbol legalitas pernikahan semata.

“Surat nikah ini penting, banyak dokumen yang mewajibkan adanya surat nikah, seperti pembuatan pasport, layanan pemerintah, layanan kesehatan, hingga penerbitan akta lahir bagi anak” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kemenag Purwakarta, H Tedi Ahmad Junaedi, mengatakan, mereka merupakan pasutri yang terdata menikah siri sehingga dokumennya belum tercatat secara resmi di negara dengan usia yang tak lagi muda, yaitu sekitar 78 tahun dan termuda sekitar 40 tahun.

“Setelah mengikuti sidang isbat nikah ini, mereka nantinya akan memiliki buku nikah,” kata Tedi.

Saat mengikuti persidangan oleh hakim Pengadilan Agama (PA) Purwakarta, sebagian pasangan mengaku jika pernikahan sirinya dahulu cukup dengan mahar atau mas kawin uang tunai Rp 10.000 saja.

Namun ada juga yang diikat mahar cincin emas. Sayang, saat majelis hakim menanyakan cincin emas kawinnya, pasangan itu langsung tersenyum sambil menjawab, jika emas kawinnya sudah dijual untuk kebutuhan makan.

“Saya nikah sudah lebih 30 tahun lalu. Meskipun siri, tapi pernikahan saya saat itu juga disaksikan tetangga. Tidak nikah resmi karena waktu itu tidak punya biaya. Timbang berzina, lebih baik menikah meskipun siri,” ujar salah seorang pasangan peserta sidang isbat massal. (wes/tif).

Baca juga

Leave a Comment