Antisipasi Jebloknya Minat DTA, Komisi IV DPRD Karawang Bahas Revisi Perda DTA

Rapat pembahasan revisi Perda DTA Komisi IV bersama Disdikpora dan Kemenag Karawang. (Foto : Istimewa).

KARAWANG-Antisipasi jebloknya minat siswa SD dan SMP untuk bersekolah di sekolah agama atau Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (DTA), Komisi IV DPRD Karawang bersama Disdikpora dan Kemenag Kabupaten Karawang serta stakeholder terkait lainnya membahas revisi Perda Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Wajib Belajar Pendidikan DTA di Kabupaten Karawang, Senin (8/7/2019), di Gedung DPRD Karawang.

“Menyikapi Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 Tentang PPDB yang berdampak pada Perda DTA, maka perlu dibahas revisi Perda tersebut supaya bisa diakomodir oleh Kemendikbud,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPRD Karawang, Endang Sodikin, kepada Prasastijabar.com.

Menurut Politikus Gerindra ini, revisi itu perlu dilakukan supaya keberadaan Perda DTA tidak semakin tenggelam. Pasalnya, menurut laporan dari Kemenag Kabupaten Karawang hanya 70 persen siswanya yang memiliki ijazah DTA, sedangkan 30 persen sisanya tidak miliki ijazah DTA.

Foto bersama usai rapat.

“Buntut PPDB online kemarin menurunkan animo masyarakat untuk bersekolah di DTA dan ini menjadi kekhawatiran kami,” ujarnya.

Dalam pembahasan revisi ini, sambungnya, ada tiga poin masukan dari Disdikpora Karawang, yakni pertama dalam Perda itu belum memasukan konsideran Permendikbud Nomor 51/2018 Tentang PPDB. Kedua, Perda itu konsiderannya masih gunakan Perda Nomor 8/2009 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan dan ketiga juga masih gunakan UU Nomor 32/2004, sementara Pemda saat ini acuannya adalah UU Nomor 23/2014.

“Jadi intinya regulasi itu masih gunakan konsideran-konsideran yang tidak relevan lagi,” bebernya.

Substansinya, tambahnya, pihaknya ingin memperkuat Perda tersebut dan pihaknya meminta kepada Disdikpora Karawang untuk membuat surat edaran kepada siswa yang belum miliki ijazah DTA untuk segera bersekolah di DTA.

“Kami juga beri ruang stakeholder beri masukan dan tentunya kami berikan ruang yang sama kepada pemeluk agama lainnya untuk buat sekolah agama, sehingga tidak fokus Islam saja biar tidak ada diskriminasi,” tutupnya. (red).

Baca juga

Leave a Comment